Dialog Reguler PHBM Tahun Pertama


CSF UNMUL dengan didukung oleh beberapa individu dan lembaga pemerhati lingkungan yang concern terhadap pembangunan kehutanan dan penyelamatan lingkungan berinisiatif untuk membangun dialog terbuka antar pelaku pengembang PHBM. Tujuan dari kegiatan ini adalah terbangunnya pemahaman bersama mengenai konsep PHBM dari semua kalangan, baik itu dari kalangan instansi pemerintah, praktisi perusahaan, civitas academika perguruan tinggi, LSM, maupun kalangan umum yang berminat untuk ikut membangun dan memberikan sumbang saran bagi pembangunan hutan dan lingkungan. Dialog yang dijadwalkan digelar terbuka setiap bulan ini tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan pihak tertentu, tetapi lebih kepada menarik pelajaran dan membenahi rencana implementasi PHBM ke depan. Dialog ini tidak terbatas pada “temu darat” yang diselenggarakan setiap bulan, tetapi juga lewat sumbang saran para pemerhati melalui jalur mailing list (milis) spt FKKM, APKSA, UnmulNet, dsb. Berikut adalah Terms of References (TOR) dari Dialog PHBM.
TERMS OF REFERENCES

DIALOG MEMBANGUN SEBUAH HARAPAN
(Seri Diskusi tentang Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat)


Latar Belakang
· Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat merupakan sebuah model kearifan pengelolaan hutan yang sudah berabad-abad lamanya berkembang di masyarakat Kalimantan Timur.

· Model PHBM tersebut mulai terpinggirkan dengan adanya kebijakan pengelolaan hutan berbasis negara (State forest management) yang dimulai pada sekitar tahun 1970-an.

· Model pengelolaan hutan berbasis negara ini cenderung berpihak pada pemodal besar. Karakter pengelolaan hutan berbasis negara yang cenderung eksploitatif telah menimbulkan berbagai dampak negatif seperti kerusakan lingkungan, keterdesakan masyarakat asli, konflik, hancurnya budaya lokal dan lain-lain.

· Mensikapi berbagai dampak negatif tersebut, mulai tahun 1990-an, di Kaltim telah muncul berbagai upaya dari kalangan LSM dan Perguruan Tinggi untuk mendorong PHBM sebagai sebuah alternatif untuk mengatasi degradasi hutan sekaligus untuk perbaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan. PHBM ini didorong menjadi sebuah alternatif pengelolaan hutan di masa mendatang dengan pertimbangan apabila kedaulatan pengelolaan hutan ada di tangan masyarakat diyakini mereka akan lebih mempunyai rasa memiliki (ownership) terhadap hutan sehingga pengelolaan yang mereka lakukan akan lebih memperhatikan aspek kelestarian, dibandingkan pengelolaan hutan oleh pemodal besar yang cenderung mengejar keuntungan ekonomis jangka pendek semata.

· Untuk mendukung PHBM tersebut, beberapa LSM telah melakukan berbagai kegiatan pendampingan kepada masyarakat. Pendampingan ini di sebagian tempat lebih diarahkan pada pendampingan manajemen kepada kelompok masyarakat agar pengelolaan hutan yang dilaksanakan oleh masyarakat tersebut mampu menjamin kelestarian hutan sekaligus tetap bernilai produktif. Beberapa contoh kegiatan pendampingan yang dilakukan antara lain: Pendampingan PHBM di Kutai Barat oleh Yayasan Bioma, Pendampingan untuk petani rotan di Kutai Barat oleh Yayasan SHK Kaltim, pendampingan untuk rehabilitasi mangrove di Kutai Timur dan Bontang oleh Yayasan Bikal, collaborative management dalam pengelolaan hutan yang difasilitasi oleh TNC dan lain-lain. Di kalangan Perguruan Tinggi, Center for Social Forestry (CSF) Universitas Mulawarman telah mengembangkan berbagai aktifitas seperti penelitian, pelatihan, kampanye dll yang berkaitan dengan PHBM.

· Dari berbagai upaya pengembangan PHBM tersebut, sudah terdapat banyak pembelajaran berupa hasil penelitian maupun hasil pendampingan. Namun di tingkat “aktor pengembang PHBM” terdapat beberapa kendala dalam pengembangan isu PHBM secara lebih luas. Kendala tersebut antara lain berupa: (a) minimnya komunikasi antar lembaga sehingga sinergi program belum berjalan secara optimal, (b) minimnya kampanye dan outreach tentang PHBM sehingga dukungan kebijakan dan dukungan publik terhadap isu PHBM masih terbatas.

· Melihat kendala tersebut, muncul pemikiran perlunya suatu ruang dialog terbuka untuk saling belajar melalui sharing pengalaman terhadap proses pengembangan yang telah dilakukan oleh berbagai pihak dan sharing pendapat tentang isu-isu baru yang berkaitan dengan PHBM. Dalam hal ini CSF Unmul didorong untuk mampu menjadi tuan rumah (host) kegiatan ini dengan pertimbangan: (a) CSF sebagai sebuah lembaga perguruan tinggi merupakan sebuah lembaga netral sehingga sangat potensial untuk mampu memfasilitasi diskusi terbuka yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan (b) CSF Unmul sebagai lembaga Perguruan Tinggi diharapkan mampu untuk menginternalisasi ideologi PHBM ke kalangan intelektual/massa kritis (dosen dan mahasiswa) di lingkungan kampus.

· Untuk itulah CSF Unmul dengan didukung oleh TNC akan mengimplementasikan rencana ini.
 


Hasil yang ingin dicapai
1. Adanya dialog terbuka antar pelaku pengembang PHBM
2. Adanya pemahaman bersama dan dukungan terhadap konsep dasar PHBM dari para pemangku kepentingan termasuk dari kalangan civitas academica dan sinergi program antar lembaga di masa yang akan datang.
3. Tersedianya dokumentasi hasil dialog yang dapat digunakan sebagai bahan perubahan kebijakan (advokasi) PHBM.


Ruang Lingkup Kegiatan:
1. Dialog Rutin bulanan tentang Isu PHBM.
Dialog ini diselenggarakan secara rutin setiap bulan, dalam format dialog informal dengan pembicara dari pelaku pengembang PHBM atau pihak lain yang relevan. Topik diskusi bisa diangkat dari hasil penelitian, hasil pendampingan maupun isu-isu PHBM terkini yang sedang berkembang. Kegiatan ini diharapkan bisa dihadiri sekitar 25 peserta dari berbagai unsur pemangku kepentingan (instansi pemerintah, LSM, Perguruan Tinggi, Masyarakat, sektor swasta dll). Hasil yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah: (a) adanya sharing pengalaman atau informasi tentang PHBM dari berbagai pihak (b) teridentifikasinya “peta” kegiatan pengembangan PHBM (c) adanya peningkatan pemahaman bersama tentang PHBM (d) teridentifikasinya potensi sinergi antar lembaga.

2. Ekspose tahunan tentang Isu PHBM
Ekspose ini dimaksudkan sebagai suatu lokakarya yang mengundang sekitar 75 orang dari berbagai unsur pemangku kepentingan untuk mendiskusikan isu-isu terkini tentang PHBM. Hasil ekspose akan dijadikan sebagai bahan untuk perubahan kebijakan (advokasi) PHBM di tingkat daerah maupun nasional. Ekspose ini diharapkan dilangsungkan pada akhir tahun. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah; (a) adanya peningkatan pemahaman bersama tentang PHBM (b) terumuskannya bahan-bahan advokasi kebijakan PHBM secara partisipatif.

3. Publikasi hasil dialog PHBM
Publikasi ini merupakan kumpulan hasil diskusi serial dan ekspose tentang PHBM. Publikasi ini dicetak sekitar 200 eksemplar dan didistribusikan kepada para pemangku kepentingan. Hasil yang ingin dicapai dari kegiatan publikasi ini adalah: (a) adanya dokumen pembelajaran sebagai media outreach PHBM yang berasal dari pengalaman riil lapangan, dan (b) adanya bahan untuk advokasi kebijakan PHBM.
 
Pengorganisasian
Kegiatan ini diorganisir oleh CSF Unmul yang diketuai oleh Prof. Dr. Mustofa Agung Sardjono.
Kegiatan Dialog Reguler PHBM ini mulai diselenggarakan pada hari Jumat, 24 Maret 2006, pkl 14.30 16.00 Wita, bertempat di Ruang Meranti, Fakultas Kehutanan Unmul, Kampus Gn. Kelua, Jl. KH. Dewantara, Samarinda, dengan moderator : Prof. Dr. Mustofa Agung Sardjono.