Mulawarman University (UNMUL), with its core of Tropical Rainforest Environment specialization, fully realizes its role in educational, research, and extension activities in the resource-rich province of East Kalimantan. UNMUL continuously strives to enhance its role in developing human resources to support sustainable use and management of forest resources as an integral part of Indonesian development programmes, acknowledging that these simultaneously contribute to global human well-being and a healthy environment.
With such concerns in mind, the typical establishment and improvement of undergraduate, graduate and postgraduate programmes has been supplemented by UNMUL through the founding of the Tropical Rainforest Research Centre (PPHT) and the Environment Research Centre (PPLH), whose activities have been well known even at international levels. Since July 1, 1997, UNMUL has further enhanced its contribution to sustainable forest resources development by establishing the Centre for Social Forestry (CSF) with the official Indonesian name of UPT. Perhutanan Sosial, Universitas Mulawarman.
The establishment of CSF is aimed at expanding the capacity of UNMUL staff in education, training, research and policy development, extension and outreach activities in Social Forestry. This is a response to growing domestic and international demand for sustainable development of forest management systems to contribute to the welfare of forest dwellers and, as well, provide benefits for other forest stakeholders.
In line with the globally accepted concepts and principles of Social Forestry and the goals of Indonesian forest development, CSF activities are directed at providing a concrete contribution to the development of Social Forestry as a wide range of systems for sustainable use and management of forest resources, based upon ecological principles, democratic partnership and mutual benefits for stakeholders concerned.

Pada hari Rabu, tanggal 6 November 2008, pkl 08.00-selesai Seminar Nasional tentang Desentralisasi dan Devolusi Pengelolaan Sumberdaya Hutan di Kalimantan Timur: Ruang Bagi Kehutanan Masyarkat, akan digelar di Hotel Mesra, Samarinda.Seminar ini dilaksanakan atas kerjasama CSF Unmul, The Ford Foundation-Indonesia dan GTZ-SMCP. Salah satu tujuan dari seminar ini adalah untuk mengumpulkan informasi dan pendapat dari berbagai pihak mengenai keterlibatan masyarakat lokal dalam usaha mengimplementasikan kebijakan desentralisasi pengelolaan sumberdaya hutan di Kalimantan Timur. TOR SEMINAR NASIONAL

DESENTRALISASI DAN DEVOLUSI PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN DI KALIMANTAN TIMUR
Ruang Bagi Kehutanan Masyarakat


Tanggal 6 November 2008,di Samarinda

Latar Belakang
Banyak masalah yang bermunculan ketika ide otonomi daerah diluncurkan, terutama pada saat penerapannya. Hal utama yang selalu hangat diperbincangkan dan seolah menjadi ”momok” otonomi adalah kemampuan sumberdaya manusia daerah, seperti halnya didalam pengelolaan hutan. Padahal pengelolaan hutan tradisional yang dikembangkan pada saat tombak dan sumpit digunakan, justru terkesampingkan oleh senjata api, gergaji mesin dan jala (yang bukan hanya sekedar dikelola oleh sumberdaya manusia dari daerah). Dengan peralatan yang semakin modern ada resiko orang semakin mudah untuk menangkap binatang dan mengumpulkan tumbuhan lebih banyak. Belum lagi kegiatan pencurian kayu, pengambilan produk-produk hutan komersial dan pembangunan infrastruktur yang mulai mengancam sumber daya alam yang ada didalamnya, termasuk kehidupan dan penghidupan masyarakat local.

Di sisi lain dengan adanya desentralisasi yang merupakan upaya pelimpahan kewenangan Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten, dan Kota justru merupakan aset penting untuk menjaga dan mengelola sumberdaya alam bagi berbagai ancaman tersebut. Selain itu, masyarakat yang ada di dalam dan disekitar hutan juga dianggap sebagai aset yang paling tepat untuk menjaga dan mengelola sumber daya alam yang ada. Dengan mendekatnya proses pengambilan kebijakan dengan sumberdaya dan masyarakat serta stakeholder lainnya yang secara langsung mendapatkan dampaknya, diharapkan bisa lebih mewujudkan pengelolaan hutan lestari, adil dan demokratis serta membantu mengeluarkan masyarakat setempat dari jerat kemiskinan. Kebijakan otonomi diharapkan dapat meningkatkan peran serta masyarakat dalam mengelola sumberdaya hutan dan memberikan kesempatan yang lebih luas kepada masyarakat setempat dalam memperoleh akses dan manfaat sumberdaya hutan.
Dalam perjalanannya seperti yang ditunjukkan dari berbagai studi dampak desentralisasi, kebijakan di era otonomi daerah umumnya belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Di satu sisi, ketidakjelasan definisi kewenangan administratif dan pemahaman yang belum sama antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten terhadap desentralisasi masih cenderung menghambat efektifitas pelaksanaan pembangunan kehutanan daerah. Di sisi lain, kewenangan bagi bupati untuk mengeluarkan izin telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap upaya daerah meningkatkan PAD.

Namun demikian, seiring hal tersebut timbul suatu kekhawatiran akan semakin luasnya hutan yang terdegradasi akibat pemanfaatan hutan yang tidak memperhatikan kaidah kaidah kelestarian. Walaupun masyarakat setempat adalah sasaran utama dalam upaya pemberdayaan di era otonomi daerah, pada kenyataannya masyarakat setempat belum memperoleh manfaat yang wajar dan berkesinambungan.

Karenanya dalam Seminar ini akan dibicarakan bagaimana dan sejauh mana keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya hutan di era otonomi saat ini terkait dengan kebijakan pemerintah dan usaha-usaha stakeholder lainnya dalam merebut kesempatan dalam upaya melestarikan hutan dengan tanpa meninggalkan usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
Tujuan :
Seminar Sehari ini mengangkat tema: Desentralisasi Dan Devolusi Pengelolaan Sumberdaya Hutan Di Kalimantan Timur (Ruang Bagi Kehutanan Masyarakat) bertujuan untuk mengumpulkan informasi dan pendapat dari berbagai pihak mengenai keterlibatan masyarakat lokal dalam usaha mengimplementasikan kebijakan desentralisasi pengelolaan sumberdaya hutan di Kalimantan Timur.

Pelaksanaan
Seminar ini dilaksanakan atas kerjasama CSF Unmul, The Ford Foundation Indonesia dan GTZ-SMCP. Pelaksanaan Seminar pada:
Hari/Tanggal : Rabu, Tgl. 6 November 2008
Pukul : 8.00 – Selesai (Jadwal Terlampir)
Tempat : Hotel Mesra, Samarinda

Visi UPT. Perhutanan Sosial (CSF)
Menjadi Pusat Unggulan (Center of Excellence) dalam bidang Perhutanan Sosial dan sebagai katalisator akademik pemanfaatan dan pengelolaan hutan tropis secara bijak demi terciptanya masyarakat hutan lestari (Sustainable Forest Society) serta berkurangnya dampak negative perubahan iklim, khususnya di Kalimantan Timur.

Misi UPT.Perhutanan Sosial (CSF)
Mengembangkan pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan kebijakan, kerjasama dengan parapihak dan pelayanan informasi dalam bidang Perhutanan Sosial, menjawab isu-isu konflik sumber daya, pembangunan daerah dan perubahan iklim serta tuntutan yang semakin meningkat terhadap perlunya sistem pengelolaan hutan lestari, demi kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan, dengan manfaat yang dapat dinikmati bersama oleh parapihak yang terlibat dan mengurangi perubahan iklim.

{module [103]}

Joomla templates by a4joomla